Jakarta – Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap sikap anggota Polri yang bertugas mengamankan aksi unjuk rasa kelompok mahasiswa yang mengatasnamakan BEM UI di depan Mabes Polri.
Menurut Habib Syakur, di tengah suasana bulan suci Ramadan yang penuh berkah, sikap aparat kepolisian justru menunjukkan keteladanan dalam menahan diri dan mengedepankan pendekatan humanis. Ia mengaku mengikuti video yang beredar di media sosial, yang memperlihatkan bagaimana anggota Polri tetap tenang meski menerima perlakuan kurang menyenangkan dari sejumlah peserta aksi.
“Saya mengacungi jempol kesabaran anggota Polri. Mereka tetap berdiri tenang saat dicaci maki, dihujat, bahkan ditunjuk-tunjuk dengan nada emosional,” ujar Habib Syakur dalam keterangannya.
Ia juga menyoroti insiden ketika ada mahasiswi yang mencoret kerudung putih milik seorang polisi wanita dengan tulisan yang dinilai tidak pantas. Namun, alih-alih terpancing emosi, aparat tetap menunjukkan sikap santun dan tidak reaktif.
“Dalam situasi seperti itu, tidak mudah untuk tetap menahan diri. Tapi mereka membuktikan bahwa pengamanan bisa dilakukan dengan kepala dingin dan hati yang sabar,” tambahnya.
Tak hanya itu, Habib Syakur juga mengapresiasi langkah anggota Polri yang tetap membagikan takjil kepada para demonstran menjelang waktu berbuka puasa. Meski ada sebagian pihak yang menolak pemberian tersebut, aparat tetap melayani dengan sikap ramah.
“Ini bulan puasa, bulan penuh rahmat. Ketika aparat yang sedang bertugas justru berbagi takjil kepada para pejuang aspirasi, itu menunjukkan kematangan dan kebesaran jiwa. Ditolak pun tetap tersenyum,” tuturnya.
Habib Syakur menilai pendekatan humanis yang ditunjukkan aparat dalam pengamanan aksi tersebut menjadi contoh bahwa perbedaan pandangan tidak harus berujung pada ketegangan. Ia berharap sikap saling menghormati antara aparat dan mahasiswa terus dijaga demi kondusivitas kehidupan demokrasi.
“Mahasiswa menyampaikan aspirasi adalah hak konstitusional. Tapi aparat yang mengamankan juga sedang menjalankan tugas negara. Jika keduanya sama-sama mengedepankan adab dan etika, maka demokrasi kita akan semakin dewasa,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan