Jakarta — Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Mahasantri Indonesia (DPP PMSI), Moh. Khairi, S.E., menegaskan komitmen organisasinya untuk terus menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai toleransi, kebhinekaan, dan kebebasan beragama di Indonesia. Menurutnya, keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) bukanlah ancaman, melainkan kekuatan strategis bangsa yang harus dirawat bersama.
“Perbedaan keyakinan dan latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk terpecah. Justru dari perbedaan itu kita bisa membangun dialog, kerja sama, dan persaudaraan yang lebih kokoh,” ujar Khairi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (21/8/2025).
PMSI, lanjut Khairi, secara konsisten menginisiasi forum dialog lintas agama dan kegiatan sosial kemasyarakatan guna memperkuat pemahaman lintas iman sekaligus menumbuhkan solidaritas antarwarga. Upaya tersebut dinilai penting di tengah meningkatnya kasus intoleransi dan ujaran kebencian di ruang publik.
Selain itu, PMSI juga menyuarakan perhatian terhadap isu kebebasan beragama, termasuk soal pendirian rumah ibadah yang kerap menjadi sumber konflik di berbagai daerah. “Negara memiliki kewajiban hadir dan melindungi hak konstitusional seluruh warga negara secara adil, tanpa diskriminasi,” tegasnya.
Khairi menambahkan, PMSI mendorong peningkatan literasi toleransi di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa dan mahasantri. Melalui pendidikan kader, seminar, dan kerja sama dengan organisasi masyarakat sipil, PMSI berkomitmen mencetak agen-agen perdamaian yang mampu menjadi teladan dalam menjaga kerukunan.
“Bangsa ini akan semakin kuat jika setiap elemen, terutama generasi muda, mampu bersikap inklusif dan aktif membangun komunikasi lintas batas. PMSI siap berkontribusi nyata dalam memperkuat persatuan Indonesia,” pungkas Khairi.



Tinggalkan Balasan