Hadapi Resesi Global, Ekonom Minta Pemerintah Siapkan Jaring Pengaman Sosial

News643 Dilihat

Jakarta – Pemerintah perlu mempersiapkan jaring pengaman sosial dalam menghadapi ancaman resesi global. Jaring pengaman sosial itu dimaksudkan untuk menghindari bertambahnya angka kemiskinan.

Hal itu disampaikan langsung Ekonom sekaligus Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan (61), dalam wawancara di Jakarta, Selasa (29/11/2022).

Menurut dia, dampak yang akan terjadi pada Indonesia tergantung dari seberapa besar kenaikan suku bunga dan penurunan komoditas.

Jika kedua hal itu sangat buruk, kata dia, maka dampak resesi global terhadap ekonomi Indonesia akan sangat buruk. Oleh karena itu, ia menyarankan pemerintah untuk membuat kebijakan yang dapat menahan (meminimalisir) kesulitan yang akan dialami masyarakat dan mencegah agar jangan sampai terjadi kemiskinan yang bertambah sangat besar.

Kebijakan tersebut bisa berupa adanya jaring pengaman sosial atau sebagainya.

Anthony yakin masyarakat pasti panik menghadapi ancaman resesi tersebut. Namun situasi yang dikhawatirkan diprediksikan tidak separah tahun 1998.

“Kalaupun kondisi ekonomi saat resesi nanti memburuk, pemerintah juga tidak dapat disalahkan karena krisis memang tidak dapat dihindari. Kenaikan suku bunga flat saja sudah menimbulkan dampak sampai rupiah Rp16.000 per dollar dan arus balik dollar sangat besar sekali, cadangan devisa turun cukup banyak dari 146 miliar dolar menjadi 130 miliar dolar, selisih 16 miliar dolar. Kenapa sampai saat ini ekonomi kita kuat dan tidak terpengaruh dengan resesi yang terjadi diluar. Karena satu hal, yaitu harga komoditas masih tinggi,” jelas Anthony.

Untuk itu, agar masyarakat siap menghadapi ancaman krisis dan tidak panik menghadapinya, Anthony mengimbau seharusnya pemerintah bisa memberikan kemungkinan-kemungkinan ekonomi secara objektif. Sehingga masyarakat pun bisa bersiap-siap.

“Didalam menghadapi resesi, masyarakat tidak bisa apa-apa. Apalagi kalau resesi ini diikuti dengan PHK dan sebagainya, itu akan sulit. Makanya saya katakan sebetulnya bukan masyarakat yang harus siap-siap, tapi pemerintah yang harus bersiap-siap dengan mempersiapkan jaring pengaman sosial,” imbuh Anthony.

Ia juga yakin jika masyarakat sendiri mempunyai kekuatan secara ekonomi pasti akan berupaya menghindari supaya jangan membeli (konsumtif), jangan hutang, entah itu properti atau apa (kredit/cicilan).

Karena hal ini akan naik dan bunga properti akan turun. Dengan kenaikan dollar otomatis impor akan berkurang. Harga-harga juga akan lebih mahal terutama yang menggunakan bahan dasar impor. Jika kenaikan kurs dollar cukup tajam, maka kenaikan inflasi juga akan meningkat cukup tajam.

“Jangan membeli barang-barang yang memakai bunga pinjaman, entah itu ada stimulus untuk kendaraan atau kemudahan lainnya. Kalau kita terikat disitu dan perekonomian anjlok maka kita tidak akan mampu bayar cicilan dan barang akan ‘disikat’. Hindari hal seperti itu, jangan sampai saat waktu dibutuhkan tidak ada uang cash. Apalagi jika terkena musibah PHK maka kita akan cilaka. Jadi terpenting adalah bagaimana pemerintah bisa membantu dengan kebijakan-kebijakannya agar masyarakat tidak terlalu menderita ketika resesi,” paparnya.

Profil :
Nama : Anthony Budiawan.
Usia : 61 tahun
Karier :
1. 20 Juli 2016- 25 Januari 2019 – Direktur Emiten kapal PT Berlian Laju Tanker Tbk. (BLTA) sekaligus Coporate Secretary perseroan.
2. 17 November 2015 – Januari 2019 – Direktur Independen Perseroan.
3. September 2011 – Agustus 2015 – Rektor Kwik Kian Gie School of Business.
4. Direktur Eksekutif Organisasi Nirlaba Indonesia Institute for Financial and Economic Advancement (IIFEA).
5. Pernah menjadi Tim ekonomi Capres Prabowo-Sandiaga Uno.
6. Masih aktif sebagai Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS).