Jakarta – Perang melawan hoax kini bukan menjadi isapan jempol belaka. Karena fenomena berita bohong yang beredar di negeri ini kian menghawatirkan dan meresakan.

Menurut Presidium Youth Movement Institue (YMI) Reza Malik, ketidakmampuan masyarakat luas dalam menyaring informasi akan menjadi pisau tajam yang menusuk dan membunuh intelejensi bangsa.

“Bahaya disintegrasi dan krisis multi dimensional yang dapat disebabkan oleh “bisingnya” hoax yang melanda negeri ini,” ungkap Reza Malik.

Hal itu mengemuka dalam diskusi kebangsaan bertema “Bersama Generasi Milenial (Mahasiswa & Pemuda) Mengimplementasikan Semangat Kebhinnekaan dalam Kehidupan agar Tidak Mudah Terhasut dan Terpecah Belah” di RM. Ayam Panggang Rawamangun Jakarta, Jumat (23/3/2018).

“Kami mengharapkan para generasi millenial yang sangat eksis di dunia maya bisa tercerahkan. Agar dimasa mendatang Indonesia bisa cemerlang,” ucap Reza Malik.

Ditempat yang sama, Pengamat Intelijen Wawan Purwanto mengatakan peran generasi milineal sangatlah dibutuhkan di era jaman now guna mencerahkan masa depan NKRI. Kata dia, generasi milenial juga diminta bijak dalam berselancar didunia maya.

“Generasi Millenial sebagai generasi kritis menjadikan seluruh pemberitaan sebagai konsumsi mereka. Maka sudah haruslah menjadi sebuah pioner dalam pembelajaran yang bebas Hoax,” kata Wawan.

Sementara itu, Sekjen Partai Berkarya Dr. H. Badaruddin Andi Picung mengapresiasi peran serta generasi milenial dalam menatap era digital (teknologi) ini.

“Dengan tingginya apresiasi mereka terhadap teknologi menyebabkan dinamisnya perkembangan sosial politik khususnya dalam negeri,” katanya.

Kata Baharuddin, hal ini menyebabkan tidak sedikitnya dari mereka terpengaruh hoax dan diskursus yang kadang justru menyebabkan kemunduran dari pola pikir mereka. Hal ini menyebabkan paradox yang membingungkan disatu sisi teknologi dan minat mereka terhadap perkembangan jaman harus didukung dan diberdayakan oleh negara.

“Dilain sisi pemberitaan di mediapun justru banyak menyesatkan pola pikir mereka termasuk pemberitaan” di media yang pada akhirnya menyebabkan bisintegrasi bangsa,” katanya.

Makanya, dia menyarankan perlu langkah tegas yang dilakukan pemerintah seperti pemberlakuan kebijakan wajibnya seluruh No Hp terdaftarkan.

“Kedepan para penyebar-penyebar diskursus dari hoax dapat diberantas,” sebut Baharuddin.

Deklarator YMI Tanggon NM mengemukakan kesadaran masyarakat terutama mahasiswa dan pemuda untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa diperlukan untuk menangkal perpecahan tersebut di tengah gempuran informasi.

“YMI berusaha memantik kembali akan pentingnya peran Mahasiswa dan Pemuda dalam rangka menciptakan kondisi yang ideal,” katanya.

Sehingga, kata dia, pemuda harus proaktif dalam merespon kondisi ini. Wajib bagi generasi milenial untuk melindungi dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar terhindar dari radikalisme dan terorisme.

“Di era milenial canggihnya media sosial dan berbagai macam gadget atau gawai menjadi primadona,” ucap Tanggon.

Namun, dia menyayangkan jika kelihaian penggunaan media sosial oleh berbagai kalangan tidak disertai dengan kecerdasan dalam penggunaannya. Munculnya berita yang tendensius, namun tidak disertai fakta atau akrab disebut hoax menjadi hal yang biasa di jumpai. Pemberitaan yang cenderung melakukan framing terhadap tokoh tertentu akibat konglomerasi media menjadi asal muasalnya.

“Oleh sebab itu harus Kroscek setiap informasi yang kita dapatkan. Di depan mata kita sudah ada pilkada serentak, yang menjadi titik awal Pemilu 2019,” katanya.

Dia berpesan kepada partai politik agar bisa menjalakan mesin politiknya dengan menyiagakan tokoh-tokoh terkemuka dalam parpol untuk melenggang untuk menjadi anggota legislatif dan orang nomor satu di negeri ini.

“Kita sebagai generasi milenial yang masih menaruh harapan pada perpolitikan negeri ini harus awas dan mawas diri agar bijak memilih, dan tidak terjebak dengan permainan kasar politisi zaman now yang sudah pesat perkembangannya sejalan dengan era informasi,” bebernya.

Tanggon melanjutkan, generasi muda harus bisa membuat situasi berbangsa, berteman, dan berkeluarga sekondusif mungkin. Beragam problematika yang kerap muncul ke permukaan seringkali mengancam kebhinnekaan 
bangsa. Mulai dari isu agama, ras, dan suku sering dijadikan sumber konflik oleh oknum-oknum tertentu.

“Kebhinnekaan menjadi bagian yang penting dalam menyelenggarakan tata kehidupan sosial dan politik Indonesia. Kedepannya nampaknya akan semakin berat manakala pemuda telah dipecah belah berdasarkan suku dan agama. Mudah-mudahan kita terus berada dalam persatuan di tengah keberagaman,” pungkasnya.

Ratusan mahasiswa antusias menyimak diskusi yang digagas YMI dengan dipandu Trisnawingki Kiki selaku moderator dan MC Marini Amalia Nasution.

 

Temukan juga kami di Google News.