Jakarta – Peneliti Center for Indonesia Election (CIE) Muhammad Chaerul mengatakan, seleksi Calon Taruna (Catar) Akademi Kepolisian (Akpol) 2025 sejatinya harus dicermati dengan kepala dingin tidak dilihat hanya dari angka kelulusan antar Polda karena ujungnya hanya menyesatkan opini publik.
Fokus publik saat ini terlalu dipersempit pada satu parameter, yakni nilai ujian tertentu, seakan-akan hanya itu tiket mutlak menjadi Taruna. Padahal, seleksi Akpol menyatukan banyak variabel tes psikologi, kesehatan, kesamaptaan jasmani, rekam jejak moral, serta wawancara mental ideologi.
Sorotan soal dominasi Polda Metro Jaya juga kurang lengkap jika tidak diimbangi fakta jumlah pendaftar dan kebutuhan penugasan yang memang besar di wilayah ibukota.
“Publik harusnya diberi gambaran utuh, misalnya berapa rasio pendaftar Polda Metro Jaya dibanding Jateng, agar diskursus tidak hanya berputar pada teori konspirasi atau dalam hal ini pengistimewaan,” kata Chaerul, kepada awak media hari ini.

Chaerul menambahkan, terkait desakan agar Kapolri angkat bicara mengenai pelik persoalan ini pun terlalu tendensius dan seakan membebani Mabes Polri dengan narasi seakan-akan seleksi ini penuh kecurangan. Padahal apa yang disampaikan itu tudingan bukan fakta.
“Pada akhirnya yang lebih urgen bukan hanya soal siapa yang lolos, tetapi bagaimana calon-calon taruna itu kelak ditempa menjadi perwira yang benar-benar berintegritas,” pungkasnya.
Tinggalkan Balasan