JAKARTA – Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam menghadirkan energi baru terbarukan, yakni listrik berkekuatan 3.200 Gigawatt menggunakan tenaga surya.

Hal ini disampaikan oleh Ketua AESI Mada Ayu Habsari saat menggelar forum bersama Kementerian ESDM RI dan PLN dengan tema ; National Solar Transition Forum 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat pada hari Rabu, 22 April 2026.

“Potensi energi tenaga surya di Indonesia memiliki potensi sebesar 3.200 GW, dan hingga saat ini berdasarkan data dari PLN dan Kementerian ESDM telah tercapai 853 MW dari PLTS Rooftop, dan secara total telah tercapai telah mencapai 1.5 GW yang sudah terpasang,” kata Mada Ayu.

Kegiatan ini hadir perwakilan dari lembaga-lembaga negara seperti Kementerian ESDM RI, Kementerian Koperasi, Kementerian UKM, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Danantara, hingga perwakilan negara-negara sahabat seperti India, Pakistan dan Thailand serta beberapa tokoh energi Nasional.

Dalam kesempatan itu, Mada Ayu juga menyampaikan bahwa target 100 GW dari tenaga surya dari Pemerintah Pusat harus selaras dengan beberapa hal, yaitu ; mempersiapkan regulasi, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), serta pembangunan infrastruktur.

“Target 100 GW dari tenaga surya harus selaras dengan persiapan regulasi, mengembangkan sumber daya manusia hingga pembangunan infrastruktur,” ujarnya.

Selain itu, dalam kegiatan National Solar Transition Forum 2026 ini juga dibahas peran Koperasi Desa dalam mendukung Transisi Energi Nasional, seperti yang disampaikan oleh Kepala BBSP KEBTKE Kementerian ESDM, Trois Dilisusendi, yang dalam pemaparannya menyampaikan bahwa ada banyak potensi tenaga surya yang bisa dikelola oleh Koperasi Desa.

“Bahwa Koperasi Desa bisa mengelola banyak sektor dengan menggunakan tenaga surya seperti PLTS Cold Storage, Pompa Air Tenaga Surya hingga PLTS Rooftop Sekolah dan Pusat Kesehatan sehingga bisa dibuat skenario Desa 1 MW, serta saat ini sedang disiapkan perpres terkait 100 GW,” papar Mada Ayu.

Pandangan terkait kebutuhan tenaga surya datang dari Prof. Iwa Garniwa, Rektor Institut Teknologi PLN, yang menyampaikan terkait dengan persiapan Sumber Daya Manusia dalam menyambut industri tenaga surya.

“Permasalahan dalam mendukung industri tenaga surya adalah jumlah sumber daya manusianya, kualitas sumber daya manusianya serta kesiapan sumber daya manusianya, seperti dalam industri tenaga surya ini ternyata dibutuhkan ahli-ahli Geospasial,” kata Prof Iwa.

Dengan demikian, ia mendorong agar kurikulum tentang geospasial dipertajam lagi di lembaga pendidikan kampus untuk mempersiapkan SDM berkualitas.

“Saya sarankan agar ada kurikulum yang adaptif dan modular serta porsi praktik lapangan harus diperkuat,” tuturnya.

Dalam kegiatan ini juga dilaksanakan penandatanganan MoU antara AESI dengan PL Energy, MoU antara AESI dengan Kementerian Tenaga Kerja RI, MoU antara AESI dengan Pakistan Solar Association, serta adanya sesi pemaparan industri tenaga surya dari beberapa negara seperti India, Pakistan dan Thailand.

Di kesempatan lain, Dr. Ir. Arya Rezavidi MEE, PhD, selalu pendiri AESI dan Peneliti di BRIN juga memberikan pandangan, bahwa dengan adanya kenaikan harga minyak global menjadi momentum mendorong tenaga surya di Indonesia.

“Karena ada momentum kenaikan harga minyak global mendorong Presiden mengeluarkan kebijakan 100 GW dari tenaga surya,” kata Dr Ir Arya.

“Apalagi segmen pasar tenaga surya di Indonesia mulai muncul dengan adanya maraknya pemasangan PLTS di atap pada sektor industri,” sambungnya.

Dr. Ir. Arya Rezavidi, MEE, PhD juga menyampaikan alasan mengapa tenaga surya mulai diminati masyarakat Indonesia dikarenakan tidak menghasilkan emisi karbon.

“Tenaga surya semakin diminati karena mengeluarkan zero emisi karbon,” pungkasnya.

Temukan juga kami di Google News.