Jakarta – Dalam beberapa waktu terakhir, aksi demonstrasi mahasiswa di berbagai daerah sering kali diwarnai oleh tindakan anarkis yang merusak fasilitas publik dan mengganggu ketertiban umum. Menanggapi situasi ini, Korwil BEMSI BSJB juga sebagai Presiden Mahasiswa BEM KM Universitas YARSI, Phalosa La Syeina Yoshiveda, secara tegas menolak segala bentuk aksi tersebut. Ia mengingatkan bahwa gerakan mahasiswa, yang seharusnya menjadi agen perubahan, harus kembali pada esensi perjuangan yang progresif, kritis, dan konstruktif.

Phalosa La Syeina menegaskan bahwa tindakan anarkis tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga menyimpang dari nilai-nilai luhur kerakyatan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh setiap elemen bangsa. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk memperjuangkan aspirasi rakyat dengan cara yang damai dan beradab.

“Aksi anarkis, di sisi lain, akan menciptakan stigma negatif terhadap gerakan mahasiswa dan mengalihkan perhatian dari isu-isu penting yang ingin disampaikan.” ujarnya.

Lebih lanjut, Korwil BEMSI BSJB menyatakan dukungannya terhadap program-program pemerintah yang berpihak pada rakyat dan berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Namun, mereka tetap berkomitmen untuk berperan sebagai pengontrol sosial yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak adil. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mendukung pemerintah, Presiden Mahasiswa tetap berfungsi sebagai suara yang memperjuangkan keadilan dan kepentingan publik.

Korwil BEMSI BSJB yang juga menjabat sebagai Presiden Mahasiswa BEM KM Universitas YARSI, Phalosa La Syeina Yoshiveda, turut menambahkan bahwa demonstrasi harus dilakukan dengan damai dan tidak anarkis. Ia mengimbau kepada seluruh mahasiswa dan masyarakat untuk fokus pada substansi tuntutan, menghindari tindakan yang merugikan, serta menjaga fasilitas umum yang merupakan milik bersama.

Phalosa percaya bahwa demonstrasi yang terorganisir dengan baik dan damai akan lebih efektif dalam menyampaikan pesan dan aspirasi kepada pemerintah.

“Saya berharap agar semua elemen masyarakat, khususnya mahasiswa, dapat bersatu dalam memperjuangkan perubahan yang positif tanpa harus melibatkan aksi-aksi yang merusak. Gerakan mahasiswa harus menjadi simbol harapan dan perubahan yang konstruktif, bukan sebaliknya.” pungkasnya.